i(dull)fitri
Keluarga ku adalah keluarga yang tidak meraya raya kan hari raya–jik merujuk kepada deskripsi tradisi perayaan idul fitri keluarga lain.
kami tidak punya ruang tamu untuk memajang kue kue kering, sehingga kue nya pun sekalian tidak kami beli
Kalaupun ada, itu adalah derma dari Tetangga dan saudara saudara kami. Dan akan habis sebelum hari raya dirayakan.
Kami jg sudah tidak lagi masak lontong dan opor. Hari itu terjadi sekali, ketika bunda ku tidak sempat masak, dan kami putuskan untuk melanjutkannya di tahun tahun berikutnya. Kami org padang, on random tuesday kami bisa makan rendang, dendeng dan lontong tanpa perlu menunggu hingga hari raya #prinsip. Lagi pula, ada 5 rumah saudara yang akan kami kunjungi di hari itu, yang tiap rumahnya akan marah jika tidak dicicipi makanannya. Maka dari itu, tidak masak di hari raya adalah merupakan bagian dr strategi menjaga keutuhan keluarga.
Kami juga tidak mengadakan open house. Anggaplah alasannya karena kami tidak punya ruang tamu, tapi lebih dari itu adalah karena rumah kami bentuknya warung baso, sehingga barangsiapa yang berkunjung akan nampak seolah olah adlh pelanggan. Agak sulit dibedakan, sehingga takutnya kami reflek minta duid.
Baju raya, kami tidak beli yang seragam. Bunda ku sibuk menamatkan qurannya di 10 hari terakhir, ayah, spt ayah ayah lain, tidak pernah benar benar tau apa yang diinginkan jika tidak diberi tau. Kakak, salah satu dr orang di rumah yg menginginkan baju raya, sudah pesan baju jauh jauh hari. Namun, seringkali seleranya berbeda dr aku, yg kebetulan salah dua dr golongan tsb.
Jadi, aku pun s7 jika ad yg bilang idul fitri kami adalah i(dull) fitri.
Namun, justru kadang itu letak serunya. Keluarga kami bahkan bisa melakukan apapun dan menamakannya idul fitri.
nothing to expect, nothing to dissapointed
Tahun kmrn, kami idul fitri dengan makan gacoan, kemudian tahun sebelumnya lagi, kami makan salad buah. Tahun ini, lumayan jadi favoritku, karena kami ngopi sekeluarga di dlm mobil di parkiran masjid. Kopi sudah lama jd minuman yang susah payah kumasukkan pada selera kelurga ku selama setahun belakangan, agar bisa minum sama sama. Dan hari raya tahun ini akhirnya terwujud
Mungkin memang harusnya begitu, tradisi harusnya dilakukan terlepas dr karena itu tradisi, tp dilakukan untuk bring ppl together. Jd jika kopi pun sudah mampu melakukannya, kenapa perlu opor?
#prinsip
Comments
Post a Comment