Magank

Magang adalah sebuah borok besar di hidupku setelah covid.

Keduanya menghadirkan cita rasa yang sama.

Rasa yang bunyinya seperti "oh gini doang"

namun nyatanya tidak. 

Dalam prosesnya, kamu yang lelah itu bertanya.

"Semua ini untuk apa?"

Keringat besar, air mata deras, air iler panjang. Kau jawab dalam hati, tentu untuk sesuatu yang sepadan, yaitu nilai konversi untuk studi.

Magang yang terlihat berat, ternyata lebih berat lagi saat dijalani. Mencicipi dunia dewasa sambil mengurusi kepelikan mahasiswa, ternyata seberat itu yh

Musibah besar ini seolah hanya kamu yang lihat, yang lain tidak peduli. Terkadang mungkin ada yang peduli, tapi tak benar benar mengerti.

Walau bebannya terlalu besar, kamu mendapati dirimu tetap menyimpannya sendirian. 

Bukan apa,

Tapi, kesendiriannya yang kali ini, luar biasa nyata. Berbeda dari kesendirian biasanya yg hanya ada di benak negatifmu.

Peran pemagang membuatmu dikeluarkan dari semua kelompok.

Mahasiswa pun enggan, karyawan pun tak mau.

Magang, yang menjadi seluruh hidupmu, hanya terdengar seperti alasan untuk yang lainnya.

"maaf bgt aku gabisa, soalnya magang"

Orang orang bilang sakit seperti ini obatnya adalah dilepaskan. Maka, sesekali Kamu ikuti, dan coba melepaskannya di balik maskermu, atau senyap senyap pada angin kencang di jalan pulangmu naik gojek. 

Namun, nyatanya yang km lakukan itu tidak membuat sembuh, hanya mengurangi rasa sakit.

Bangun pagi buta, berdesakkan di kereta, kedinginan di kantor, kesepian, kehilangan masa muda, kelelahan. Kamu tak tahan, ingin cerita. 

Tapi ortu bilang, "masih banyak yang lebih susah"

yah, itulah obat yg di dapat jika pergi kepada ortu. penghilang rasa sakit metode melihat kebawah.

yaudahlah,

Nenek bilang "kuat kuat"


Comments

Popular posts from this blog

Gombal

Cwe yg sedih, tp menolak sedih, tp klo yg disana sedih, baru mau sedih juga

Cwe yg bisa blng "ktemu yu" tp ttp gaketemu