Romantisasi Bandung

"Dan bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, Lebih jauh dari itu melibatkan Perasaan, yang bersamaku ketika sunyi" -Pidi Baiq, Warga lokal Bandung

Aku sungguhan ingin berpuisi seperti Dilan, juga makan cakwe seperti Nathan. Bandung menimbulkan gejala yang demikian, bahkan dalam satu tarikan nafas pertamamu disana.

Dilan bilang jalanan bandung romantis. Bukan, bukan karena ada Milea. Milea bahkan tidak pernah benar benar ada dalam pandangan Dilan ketika motoran di Bandung. karena Milea selalu dibonceng dibelakang, dibalik punggungnya. Lain cerita jika Milea duduk di keranjang motor yang juga jika punya keranjang

Komposisi jalan Bandung membawa kesan yang kuat. Sangat tidak masuk akal bahkan jika ditinjau dari pendekatan konstruksi. Walau terbuat dari aspal yang sama, dan mendatangkan arsitek yang sama. Jalanan bandung punya cita rasanya sendiri. Mulai dari pepohonan pada jalan raya yang kerdil kerdil seakan menyapa para pengguna jalan dengan ramah. Tanaman hias dikiri kanan jalanan yang mengingatkan mu pada rumah nenek.

Sampahnya, 

duh, bahkan sampahnya seperti properti setting film.

Disana, di jalanan Bandung, ketika kamu bermotoran, pori pori mu sekejap akan berbaris bulat bulat gendut. Anginnya dingin dan masuk hingga daleman. Namun, bukannya menggigil, km rasakan visualisasi yang dideskripsi milea dalam buku, dan otakmu serta merta mengartikannya nya sebagai suatu kata yg tersebut oleh mu tanpa perlu membuka mulut. 

romantis

tidak peduli siapa yang membonceng, romantisasi itu antara kamu dan Bandung, bukan dengan siapa atau naik motor apa.

Bandung tetap ada disana, selama bertahun tahun, bertukar dari generasi ke generasi, menjadi kota yang di puja banyak orang. Terimakasih UPI, setidaknya walau tidak bergengsi, UPI membawa ku pada keindahan bandung, dan enaknya rupa rupa aci

Comments

Popular posts from this blog

Gombal

Cwe yg sedih, tp menolak sedih, tp klo yg disana sedih, baru mau sedih juga

Cwe yg bisa blng "ktemu yu" tp ttp gaketemu