dosa setitiq

Semua ini terjadi begitu aja, diawali dosa dosa kecil yang sepele hingga akhirnya terbiasa
dan merajalela.
Kisah ini, di tahun terakhir di masa sekolah menengah pertama, yang seharusnya diisi dengan kebaikan
dan pendekatan kepada allah.
Ujung pangkal dari permasalahan ini adalah bonding yang kurang ridho allah, sehingga membuka catatan catatan yang akan
kami rutuki esok harinya. Dosa dosa akibat prinsip untuk mengambil manfaat dari resiko yang besar.
Terus memberikan alasan untuk masuk ke lubang yang lebih dalam.
Mulanya dari main kartu, kartu yang dekat dengan kekufuran jika di sepadankan dengan sekolah boarding. Bagian paling menyenangkan dari permainan ini adalah perasaan
berdebar yang dua kali lipat, karena permainan ini masuk dari salah satu daftar pelanggaran di asrama,
yang kami jadikan prinsip dan kami jalani dengan licik. Maksiat adalah hal yang candu karena menjadi bagian
lelucon favorit di pagi hari, apalagi episode penyelundupan dari patroli asrama oleh guru.
Maksiat membuat kami menjadi manusia yang tangguh dan suka tantangan.
Awalnya main kartu, kemudian main laptop. 
narasi nya hampir sama, untuk mencari manfaat dari resiko yang besar.
Namanya mawar, tokoh yang terlebih dahulu ku samarkan dan kemudian akan memenuhi halaman halaman
selanjutnya. 
Mawar adalah murid yang ngeyel tapi berprestasi, beliau adalah murid terhormat sejak aku memutuskan untuk
menggambarkannya secara terhormat dan menjadikannya pemeran utama di halaman ini.
Dia bawa laptop ke asrama secara legal untuk ikut lomba lomba menulis essay yang ketergantungan laptop.
Mawar menjadi pribadi yang tegas dan ketat kalau kalau ada godaan dari anak kamarnya, yang akhirnya suatu
saat khilaf.
bisa jadi mawar adalah murid yang suka khilaf, tapi mawar bukan temen yang kalau seneng sendirian aja.
selanjutnya yang terjadi adalah, kami nobar tanpa perencanaan. Nobar dilakukan berkelanjutan, walaupun
besoknya ujian tahfizh, kami tetap berkomitmen untuk nambah satu episode lagi.
nobar dan chunky bar emang sama sama bikin candu.
dan pada suatu saat yang tidak menguntungkan. laptop mawar kena sita.
yang mengakhiri maksiat kami, sebagai akhir untuk awal dari maksiat yang lain.
hari semakin dekat dengan ujian nasional, acara penutupnya adalah doa bersama yang dihadiri masing masing
orangtua. orangtua bukanlah  salah satu bagian dari kesalahan kami, tapi yang berbahaya apabila,
salah satu dari anak kamar kami dapat hadiah dari adiknya yang akan menjadi sarana dosa kedepannya.
secara nampaknya, benda itu hanyalah jam biasa yang yang berputar statis mengelilingi angka angka
dari 1 hingga 12.
tapi di baliknya, ada layar multi guna yang bisa menyimpan kontak dan nomor nomor, juga ada aplikasi kamera
yang tak bisa diandalkan. sesuatu hadiah kecil untuk anak boarding seperti kami.
alasan awal pemakaian adalah menjalin hubungan dengan orangtua. klasik dan luhur.
hari yang menjelang wisuda, tak disangka, membutuhkan persiapan dan komunikasi yang banyak.
awalnya benda kecil ini hanya rahasia internal di kamar ku.
kami sepakat untuk tidak menimbulkan dosa jariyah, alias menikmati fasilitas itu secara ekslusif.
tapi satu dua orang berdatangan, yang identik dengan sifat cari untung.
sampai akhirnya jam itu menjadi rahasia umum, dan kamar kita jadi momok besar untuk angkatan
yang saling menutupi kesalahan untuk solidaritas.
singkatnya, benda kecil ini menciptakan komunitas yang dominan anggotanya non anak kamar dengan program kegiatan
yang diadakan kalau sempet dan pengen.
komunikasi dengan asarama sebrang sudah jadi rutinitas.
ketidaknyamanan datang dari internal juga dari eksternal.
kamar kami harus menanggung malu atas perbuatan yang tidak kami perbuat.
anak angkatan yang awalnya mencibir perlahan lahan melunak karena punya kepentingan. pengunjung dari penjuru asrama bergantian mengambil manfaat dari benda kecil itu
sampai lah pada suatu acara puncak yang diselenggarakan di villa ciater.
acara ini adalah sebagian dari acara minggu tahfizh yang diselenggarakan untuk anak assyifa aja,
kalau kalian sempet ada kepo.
kalau harus jujur dan bela diri, aku bukanlah sebagian dari mereka yang bergantung pada jam tangan
yang buat autis itu.
tapi buat kali ini, pertama kalinya kugunakan, dikarenakan mepet dan buat nambah pengalaman aja.
aku coba text message bunda ku 
“bun nanti telpon dong”
tipe interaksi yang belum tuntas dan tidak menguntungkan 
kemudian ‘jam’ itu digilir kepada orang lain yang juga butuh.
tanpa tahu keadaanya akan membahayakan ku. 
tokoh selanjutnya bernama melati dan melatu. mereka melakukan aktivitas dari aplikasi kamera yang gak
bisa diandalkan. kamera yang sensornya dimana, nyorotnya kemana.
melati dan melatu mengerahkan banyak usaha yang sia sia, dan tak ada satupun usaha mereka yang
menghasilkan foto. berhubung kartu memori yang belum terpasang dan juga situasi yang dengan cepat terbalik. 
bunda guru  datang dan menyita jam pembawa masalah itu, menjadi awal dari semua mimpi buruk.
rapat dadakan di lakukan, kami cemas cemas harap keberuntungan memihak kami.
kami agak tenang ketika dapat kepastian bahwa batre jam dalam keadaan sekarat. menurut perhitungan harusnya jam itu mati sebentar lagi.
setidaknya, kasus bisa ditunda atau bahkan ditutup karena jamnya mati dan tipe chargernya pun agak spesial dan gak mudah di ada adakan. 
semua berjalan baik seperti itu, sampai akhirnya nasib dikocok.
tokoh selanjutnya, adalah syifa nabila, alias diriku sendiri. 
ternyata, semua ini gak lain dan gak bukan adalah kelakuan orang tua ku yang penuh kasih,
yang menelpon kepada bunda guru di sisa batre terakhir dan meminta bicara dengan anaknya dengan identitas yang
sengaja dilengkap lengkapkan untuk antisipasi nama yang tertukar.
Syifa Nabila akhyar, target terkunci. aku pun kena panggil
prosedur selajutnya adalah penyidangan, yang dijalani ku dengan tidak profesional
aku kembali kepada teman teman ku, bukan sebagai informan apa pun, atau kegiatan yang berdasar rasional.
aku hanya jadi penangis yang minta dikasihani:( 
kemudian aku dan kesebelasan kamarku berkumpul dan menjadi paduan menangis.
bukan cuma kompak ketika maksiat, malam ini kami membuktikan, juga kompak bahkan saat kegiatan bertaubat.
setelah malam itu, kami banyak berdoa, walau tidak sebanyak perlakuan maksiat kami dahulu.
yang usahanya dinilai allah disisinya. kami wisuda dengan selamat, juga lulus walaupun tidak begitu berprestasi. 
pelajaran yang bisa diambil, yang terlebih dahulu adalah, jangan bernama syifa, percayalah,
masih banyak nama yang lebih pasaran lagi untuk mengelabui identitasmu apabila sedang terjerat masalah.
pakailah nama muhammad untuk laki laki ataupun putri untuk perempuan. semoga bermanfaat.

Comments

Popular posts from this blog

Gombal

Cwe yg sedih, tp menolak sedih, tp klo yg disana sedih, baru mau sedih juga

Cwe yg bisa blng "ktemu yu" tp ttp gaketemu